Pemetaan Isu Akidah Kontemporer, dari Klasik hingga Tantangan Digital
TANGERANG – Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar kajian bertema “Pemetaan Isu-isu Seputar Akidah Islam Kontemporer” dalam rangkaian Pengkajian Ramadan 1447 Hijriah di Auditorium Gedung 1912, Universitas Muhammadiyah Tangerang (UM Tangerang), Rabu (25/2/2026). Kegiatan ini dihadiri ratusan peserta dari kalangan akademisi, dosen, serta kader Muhammadiyah.
Ketua PP Muhammadiyah, Syafiq A. Mughni, memaparkan bahwa diskursus akidah dalam Islam memiliki akar historis yang panjang. Ia menjelaskan tiga fondasi utama teologi Islam, yakni tauhid sebagai keyakinan terhadap otoritas tunggal Allah, aqidah sebagai pokok-pokok iman yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah, serta ilmu kalam sebagai upaya rasionalisasi ajaran melalui pendekatan filosofis.
Menurutnya, perdebatan akidah pada masa klasik kerap diwarnai polemik antara ahli kalam dan ahli hadis. Seiring waktu, dinamika tersebut berkembang dengan munculnya tarekat terorganisasi yang melahirkan isu-isu baru, seperti pemaknaan karamah wali dan praktik tawasul. Namun di era kontemporer, tantangan akidah tidak lagi bersifat sektarian, melainkan dipengaruhi arus pemikiran global seperti sekularisme, saintisme, dan antroposentrisme berbasis humanisme. Meski demikian, Muhammadiyah meyakini iman dan ilmu pengetahuan dapat berjalan beriringan.
Sementara itu, Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah, Hilman Latief, menyoroti tiga pola berpikir masyarakat, yakni teologis, metafisis, dan positif-ilmiah. Ia menyebut, Indonesia termasuk negara dengan tingkat religiusitas tinggi berdasarkan survei 2008–2023 yang menempatkan Indonesia sebagai negara yang menganggap agama sangat penting dan masuk tujuh besar negara paling religius di dunia.
Namun, ia juga menilai masih terdapat ironi dalam praktik sosial. Di satu sisi masyarakat memanfaatkan teknologi modern sebagai hasil pemikiran ilmiah, tetapi di sisi lain praktik metafisis seperti kepercayaan terhadap angka sial masih bertahan. Karena itu, ia menekankan pentingnya agama menghadirkan dampak nyata dalam kehidupan, termasuk melalui penguatan konsep ekoteologi sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan.
Pandangan tersebut diperkuat oleh Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Din Wahid, yang menyoroti pergeseran otoritas keagamaan di era digital. Ia menyatakan, generasi muda kini lebih banyak belajar agama melalui internet dan figur influencer dibandingkan lembaga pendidikan formal atau pesantren.
Fenomena ini, menurutnya, perlu menjadi perhatian karena otoritas keilmuan para pendakwah digital tidak selalu terverifikasi. Ia menegaskan bahwa agama tidak boleh berhenti sebagai wacana, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang memberi dampak sosial, termasuk dalam isu lingkungan hidup.
Pengkajian Ramadan PP Muhammadiyah akan berlangsung sepanjang bulan suci dengan menghadirkan berbagai tema strategis untuk memperkuat pemikiran dan gerakan persyarikatan di tengah dinamika zaman.
