Forum Rektor PTMA 2026: Kampus Muhammadiyah Bergerak Menuju Pusat Peradaban Baru
JAKARTA – Forum Rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) 2026 tidak sekadar menjadi ajang pertemuan para pimpinan kampus Muhammadiyah se-Indonesia. Lebih dari itu, forum ini menjadi ruang lahirnya gagasan besar tentang arah baru pendidikan tinggi Muhammadiyah di tengah perubahan global yang semakin dinamis dan kompetitif.
Diskusi yang berlangsung hangat dan penuh gagasan strategis tersebut menyoroti bagaimana PTMA harus bergerak lebih cepat, adaptif, dan terhubung dengan berbagai sektor penting seperti industri, teknologi, investasi, hingga penguatan ekonomi umat.
Dalam pembukaan forum, Bambang Setiaji menegaskan bahwa pengelolaan PTMA tidak lagi bisa bertahan dengan pola lama. Menurutnya, kampus harus mulai membangun ekosistem ekonomi berkelanjutan berbasis potensi internal yang dimiliki.
“Kampus tidak boleh hanya menjadi penonton perkembangan industri dan perubahan global, tetapi harus menjadi pemain utama dalam menciptakan ekosistem pendidikan, ekonomi, dan inovasi,” tegasnya.
Gagasan tersebut diperkuat oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, yang menekankan pentingnya membangun PTMA berkemajuan melalui sinergi seluruh unsur persyarikatan.
Menurutnya, perguruan tinggi Muhammadiyah tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Amal usaha, gerakan ekonomi umat, teknologi, dan dakwah sosial Muhammadiyah harus terintegrasi dalam satu arus besar pembangunan peradaban modern.
“Dari sinilah kekuatan Muhammadiyah akan menemukan bentuk peradabannya di masa depan,” ujar Haedar Nashir.
Forum semakin dinamis saat Ketua Forum Rektor PTMA, Prof. Ma’mun, memaparkan berbagai peluang konkret yang dapat menjadi akselerator kemajuan PTMA. Sejumlah program strategis mulai dibahas, seperti pengembangan open learning, investasi kebun kelapa sawit di Kalimantan Timur, program kuliah 1.000 mahasiswa bidang manajemen, hingga peluang PTMA menjadi dealer kendaraan listrik Wuling.
Berbagai gagasan tersebut menunjukkan bahwa kampus Muhammadiyah kini mulai bergerak memasuki ruang baru yang menghubungkan pendidikan dengan industri, investasi, teknologi, dan penguatan ekonomi umat.
Forum juga menghadirkan suasana diskusi yang lebih cair melalui konsep healing, hearing, and empowering antar rektor PTMA. Para pimpinan kampus berdialog hingga larut malam membahas tantangan pendidikan tinggi, arah kontribusi PTMA, hingga persiapan menuju Muktamar Muhammadiyah 2027 di Medan yang akan dipusatkan di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU).
Dalam diskusi tersebut, sejumlah tokoh seperti Prof. Kadiem, Prof. Umar Congge, dan Prof. Rajendra turut memberikan pandangan strategis terkait penguatan solidaritas PTMA, khususnya kawasan Indonesia Timur, dalam menghadapi perubahan zaman yang semakin kompleks.
Forum Rektor PTMA 2026 memperlihatkan satu arah yang semakin jelas: kampus Muhammadiyah tidak lagi hanya berfokus melahirkan lulusan dan ijazah, tetapi mulai membangun ekosistem peradaban baru berbasis pendidikan, teknologi, ekonomi, dan kekuatan umat.
Jika arah transformasi ini terus dijaga dan diperkuat, PTMA diproyeksikan mampu menjadi kekuatan besar yang tidak hanya mencetak sarjana, tetapi juga memimpin perubahan Indonesia di masa depan.
