Muhammadiyah Siapkan Koin Emas Digital Berbasis Blockchain, Dorong Kemandirian Ekonomi Umat
TANGERANG – Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyiapkan terobosan baru di bidang ekonomi dengan menggagas koin emas digital berbasis aset riil sebagai instrumen penguatan kemandirian umat. Gagasan tersebut mengemuka dalam sesi kelima Pengkajian Ramadan 1447 H yang digelar di Universitas Muhammadiyah Tangerang (UM Tangerang), Rabu (25/02/2026).
Forum bertema Pengalaman Pengembangan Kesejahteraan Ekonomi Umat itu menghadirkan Anwar Abbas, Bambang Setiaji, dan pengusaha nasional Chairul Tanjung. Diskusi menyoroti pentingnya inovasi ekonomi berbasis aset produktif, penguatan wakaf, hingga transformasi mindset kewirausahaan.
Prof. Bambang Setiaji memaparkan rencana peluncuran Muhammadiyah Coin (MDC), yakni koin emas digital dengan underlying asset berupa emas fisik. Berbeda dengan kripto spekulatif tanpa aset dasar, MDC dirancang memiliki cadangan emas nyata yang dapat ditukar kapan pun.
Menurutnya, distribusi MDC akan dilakukan melalui tiga jalur: sistem blockchain yang saat ini dalam tahap uji coba, jaringan perbankan syariah, serta gerai offline di tingkat daerah. Hasil pengelolaannya diarahkan untuk memperkuat Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), termasuk sekolah dan lembaga pendidikan.
“Kita ingin membangun model bisnis sosial berbasis investasi kolektif, sehingga umat memiliki instrumen yang aman sekaligus produktif,” ujarnya.
Koin tersebut direncanakan memuat figur pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan, sebagai simbol semangat pembaruan dan kemandirian.
Sebelumnya, Dr. Anwar Abbas menyoroti rendahnya literasi dan kecerdasan finansial umat. Ia menilai banyak dana umat belum dikelola secara optimal. Salah satu alternatif yang ditawarkan adalah penguatan investasi berbasis emas, yang dalam satu dekade terakhir menunjukkan tren kenaikan signifikan secara global.
Menurutnya, Muhammadiyah memiliki modal sosial dan aset besar, termasuk lebih dari 21 ribu hektare tanah wakaf, yang perlu dikelola secara produktif dan profesional agar memberi dampak ekonomi luas.
“Kita harus berani mengubah mentalitas, dari sekadar pekerja menjadi pencipta lapangan kerja,” tegasnya.
Chairul Tanjung menambahkan perspektif makro mengenai tantangan ekonomi bangsa. Ia menyebut kemiskinan, kesenjangan, rendahnya kualitas pendidikan, serta budaya instan sebagai hambatan utama kemajuan.
Menurutnya, kunci pertumbuhan ekonomi terletak pada jumlah entrepreneur. “Minimal empat persen penduduk harus menjadi entrepreneur agar ekonomi tumbuh kuat dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya perubahan pola pikir, penguasaan teknologi, disiplin, serta keberanian mengambil keputusan. Seluruh prinsip tersebut, katanya, harus dilandasi nilai keberkahan dan tanggung jawab sosial.
Diskusi yang berlangsung dinamis itu juga membahas strategi sentralisasi wakaf, pencetakan wirausaha dari kampus, hingga pemanfaatan teknologi blockchain untuk penguatan ekonomi umat.
Menutup sesi, moderator menyampaikan salam dari Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla, yang sedianya hadir namun berhalangan karena kondisi kesehatan.
Rangkaian pembahasan menegaskan arah baru Muhammadiyah: tidak hanya memperkuat teologi dan gerakan sosial, tetapi juga menghadirkan inovasi ekonomi berbasis aset riil dan teknologi modern. Dari wakaf hingga blockchain, organisasi ini menegaskan komitmennya membangun kemandirian ekonomi umat secara berkelanjutan.
