Kepala BNN Banten: Modus Narkoba Kini Incar Santri, Pesantren Harus Jadi Benteng Moral
TANGERANG – Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Banten, Brigjen Pol. Drs. Rohmad Nursahid, mengingatkan bahwa ancaman peredaran narkoba di wilayah Banten semakin serius dengan berbagai modus baru yang menyasar generasi muda, termasuk lingkungan pesantren.
Menurut Rohmad, posisi geografis Banten yang strategis menjadikannya salah satu wilayah yang rawan dijadikan jalur penyelundupan narkotika oleh jaringan internasional.
“Banten adalah wilayah yang sangat strategis. Kita memiliki jalur udara melalui Bandara Soekarno-Hatta dan jalur laut melalui Pelabuhan Merak. Ini membuat wilayah kita sering dijadikan pintu masuk peredaran narkoba,” ujar Rohmad.
Ia mengungkapkan bahwa sindikat narkoba terus berinovasi dalam menjalankan aksinya. Modus penyelundupan kini tidak lagi dilakukan secara konvensional, tetapi melalui berbagai cara yang lebih sulit dideteksi.
Modus Baru: Narkoba Disusupkan ke Vape dan Makanan
BNN menemukan berbagai modus baru yang digunakan jaringan narkotika untuk menyasar anak muda dan santri. Narkoba kini kerap disamarkan dalam bentuk cairan rokok elektrik (vape), makanan seperti kue, hingga minuman.
Modus tersebut kerap memanfaatkan rasa ingin tahu generasi muda yang awalnya hanya ingin mencoba-coba.
“Banyak korban yang awalnya hanya ingin mencoba karena takut dianggap tidak gaul. Padahal di balik itu, mereka sudah dijebak oleh jaringan narkoba,” jelas Rohmad.
Lebih memprihatinkan lagi, kata dia, terdapat oknum tertentu yang mencoba memanipulasi narasi agama untuk meyakinkan korban.
“Ada kasus di mana narkoba diklaim sebagai obat kuat untuk dzikir atau bahkan disebut memiliki dasar dalil tertentu. Ini jelas penipuan yang sangat berbahaya,” tegasnya.
Pesantren Didorong Jadi Benteng Moral
Rohmad menegaskan bahwa upaya memerangi narkoba tidak bisa hanya dilakukan oleh aparat penegak hukum. BNN membutuhkan dukungan berbagai pihak, termasuk pesantren sebagai lembaga pendidikan dan moral umat.
Menurutnya, pesantren memiliki peran strategis dalam membentengi generasi muda dari pengaruh narkoba melalui pendidikan nilai, pembinaan karakter, dan pengawasan sosial.
“Pesantren adalah benteng moral masyarakat. Kami berharap para kyai dan pengasuh pesantren dapat menjadi garda terdepan dalam melindungi generasi muda dari ancaman narkoba,” ujarnya.
Edukasi Bahaya Narkoba Harus Terintegrasi
BNN juga mendorong pendekatan pencegahan yang lebih sistematis dengan memasukkan materi bahaya narkoba ke dalam kurikulum pendidikan.
Rohmad menilai sosialisasi melalui ceramah saja tidak cukup. Oleh karena itu, pemahaman mengenai bahaya narkoba perlu diintegrasikan dalam mata pelajaran seperti Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) maupun pendidikan etika.
“Pencegahan harus menjadi bagian dari sistem pendidikan, sehingga anak-anak memahami sejak dini bahaya narkoba,” katanya.
BNN Sediakan Rehabilitasi Gratis bagi Korban
Selain pencegahan, BNN juga menekankan pendekatan yang lebih humanis terhadap korban penyalahgunaan narkoba. Rohmad mengimbau masyarakat, termasuk keluarga pesantren, untuk tidak ragu melaporkan jika ada anggota keluarga yang terpapar narkoba.
Menurutnya, BNN menyediakan layanan rehabilitasi gratis bagi korban penyalahgunaan narkoba, salah satunya di pusat rehabilitasi BNN di Lido.
“Lebih baik melapor dan menjalani rehabilitasi daripada membiarkan korban terjerumus lebih dalam hingga akhirnya menjadi pengedar karena kebutuhan terhadap narkoba,” jelasnya.
Ia pun mengingatkan bahwa upaya memerangi narkoba merupakan tanggung jawab bersama demi menjaga masa depan generasi bangsa.
“Jangan sampai kita ingin menyongsong Generasi Emas 2045, tetapi yang terjadi justru generasi cemas karena narkoba,” pungkasnya.
