Rektor UM Tangerang Dorong Sinergi Nyata Kampus dan Pesantren

TANGERANG – Rektor Universitas Muhammadiyah Tangerang (UM Tangerang), Dr. H. Desri Arwen, menegaskan bahwa kolaborasi antara kampus dan pesantren harus menghasilkan program yang nyata dan berdampak langsung bagi masyarakat. Menurutnya, perguruan tinggi tidak boleh terjebak menjadi lembaga akademik yang jauh dari realitas sosial.

“Kampus tidak boleh menjadi menara gading. Pertemuan seperti Raker ini harus menghasilkan komitmen operasional, bukan sekadar janji di atas kertas,” ujar Desri Arwen.

Ia menilai sinergi antara kampus dan pesantren harus diwujudkan melalui program konkret yang menyentuh kebutuhan masyarakat, mulai dari penguatan ekonomi umat hingga penanganan persoalan kesehatan di lingkungan pesantren.

Program RPL Percepat Kyai dan Asatidz Raih Gelar Sarjana

Sebagai bentuk dukungan terhadap dunia pesantren, UM Tangerang membuka program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) yang memungkinkan para kyai dan asatidz mengonversi pengalaman mengajar dan memimpin pesantren menjadi satuan kredit semester (SKS).

Melalui program ini, para tokoh pesantren dapat menyelesaikan pendidikan sarjana hanya dalam waktu sekitar 1,5 tahun.

“Ini adalah bentuk penghormatan kampus terhadap tradisi dan keilmuan pesantren. Pengalaman para kyai dan ustadz tidak boleh diabaikan, tetapi justru harus diakui sebagai bagian dari proses akademik,” jelasnya.

Konsep “Kuliah Jamaah” untuk Santri

UM Tangerang juga mengembangkan konsep “Kuliah Jamaah” yang dirancang lebih fleksibel agar dapat diikuti oleh kalangan santri maupun pengasuh pesantren yang memiliki kesibukan tinggi.

Dalam sistem ini, proses perkuliahan tetap memenuhi standar akademik nasional, namun jadwal pembelajaran dapat dipadatkan dan disesuaikan tanpa mengurangi kualitas pendidikan.

Mahasiswa UM Tangerang Siap Turun Bantu Pesantren

Lebih lanjut, Desri Arwen menegaskan bahwa kolaborasi antara kampus dan pesantren tidak hanya berhenti pada program pendidikan formal.

Mahasiswa dan dosen UM Tangerang, kata dia, akan terlibat langsung melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan riset terapan untuk membantu berbagai persoalan di lingkungan pesantren dan masyarakat sekitar.

Program pengabdian tersebut akan difokuskan pada isu kesehatan masyarakat, khususnya penanganan stunting serta peningkatan kesehatan ibu dan anak di wilayah desa dan pesantren.

“Mahasiswa kami membutuhkan ruang pengabdian nyata, sementara pesantren membutuhkan dukungan metodologi dan manajemen modern. Di sinilah kolaborasi itu saling menguatkan,” ujarnya.

Ia pun mengingatkan agar kerja sama antara kampus dan pesantren tidak berhenti pada dokumen kesepakatan semata.

“Saya sudah terlalu sering melihat MoU yang akhirnya hanya tersimpan di laci. Sinergi harus benar-benar mendarat menjadi aksi nyata yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tegasnya.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*