Pesantren dan Kampus Bersatu, FSPP Banten Gaungkan Gerakan Ekonomi Umat dan Perang Melawan Narkoba

TANGERANG – Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP) Provinsi Banten menggelar Rapat Kerja (Raker) III di Universitas Muhammadiyah Tangerang (UM Tangerang). Kegiatan ini mengusung tema “Sinergi Pesantren dan Kampus dalam Membangun Ketahanan Pangan, Kedaulatan Ekonomi Umat dan Gerakan Bersama Memerangi Narkoba.”

Forum tersebut menjadi ruang strategis yang mempertemukan unsur pemerintah, aparat penegak hukum, kalangan akademisi, serta para pengasuh pondok pesantren untuk memperkuat peran pesantren dalam pembangunan bangsa. Indonesia sendiri tercatat memiliki sekitar 43 ribu pondok pesantren yang berpotensi besar menjadi motor penggerak ekonomi umat.

Pesantren Didorong Perkuat Peran Ekonomi Umat

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Menteri Agama, Dr. KH. Romo R. Muhammad Syafi’i, menegaskan pentingnya reorientasi peran pesantren agar tidak hanya berfokus pada pendidikan, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat.

Menurutnya, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren menegaskan bahwa pesantren memiliki tiga fungsi utama, yaitu pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.

“Ketahanan pangan dan ekonomi adalah prasyarat mutlak bagi keamanan masyarakat,” ujar Wamenag. Ia menyinggung tafsir Surah Quraisy yang mendahulukan makna “memberi makan” sebelum “memberi rasa aman.”

Karena itu, pesantren didorong untuk terlibat aktif dalam berbagai program strategis pemerintah, seperti pengembangan Koperasi Merah Putih dan pengelolaan kampung nelayan berbasis komunitas, khususnya di wilayah pesisir yang memiliki banyak pesantren.

BNN Ungkap Ancaman Narkoba Incar Komunitas Religius

Sementara itu, Kepala BNN Provinsi Banten, Brigjen Pol. Drs. Rohmad Nursahid, mengungkapkan bahwa Indonesia masih menghadapi ancaman serius dari penyalahgunaan narkoba.

Ia menyebutkan bahwa prevalensi pengguna narkoba secara nasional telah mencapai 2,1 persen atau sekitar 4,1 juta jiwa.

Menurut Rohmad, Provinsi Banten menjadi wilayah yang rawan karena memiliki pintu masuk strategis seperti Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Pelabuhan Merak, yang kerap dimanfaatkan jaringan internasional untuk menyelundupkan narkotika.

Lebih mengkhawatirkan, modus peredaran narkoba kini semakin beragam dan mulai menyasar komunitas religius.

“Narkoba sekarang bisa disusupkan dalam bentuk vape, makanan, bahkan dikemas seperti obat penambah stamina. Ada juga yang secara manipulatif mengklaim produk tersebut halal untuk menipu para kyai dan santri,” ungkapnya.

Sebagai langkah pencegahan, BNN terus memperkuat program Desa Bersinar (Bersih Narkoba) serta mendorong integrasi edukasi anti-narkoba ke dalam kurikulum sekolah dan pesantren.

Kampus Hadirkan Solusi Akademik untuk Pesantren

Menanggapi berbagai tantangan tersebut, Rektor UM Tangerang Dr. H. Desri Arwen menegaskan komitmen kampus dalam mendukung penguatan kapasitas pesantren melalui pendekatan akademik.

UM Tangerang, kata dia, membuka program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) yang memungkinkan para pengasuh pesantren maupun santri senior untuk mengonversi pengalaman mereka menjadi satuan kredit semester (SKS), sehingga dapat menyelesaikan pendidikan sarjana dalam waktu sekitar 1,5 tahun.

“Sinergi ini tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial. Mahasiswa UM Tangerang melalui program KKN tematik akan turun langsung membantu penguatan manajemen ekonomi pesantren serta penanganan stunting di desa-desa binaan,” ujar Desri.

Rapat Kerja III FSPP Banten ini diharapkan menjadi momentum penguatan kolaborasi antara pesantren, pemerintah, aparat penegak hukum, dan perguruan tinggi dalam membangun ketahanan ekonomi umat sekaligus memperkuat gerakan bersama memerangi narkoba.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*