UMT TUAN RUMAH PENGKAJIAN RAMADAN 1447 H PP MUHAMMADIYAH
TANGERANG, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, resmi membuka Pengkajian Ramadan 1447 Hijriah di Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT), Senin (24/2/2026).
Kegiatan yang berlangsung pada 24–26 Februari 2026 ini mengusung tema “Akidah Islam Berkemajuan: Memperluas Paham Tauhid Murni Tinjauan Ideologis, Filosofis, dan Praksis.”
Agenda tersebut diarahkan untuk memperkuat sekaligus mengkodifikasi landasan teologis dan filosofis gerakan Muhammadiyah dalam menjawab tantangan zaman. Dalam sambutannya, Haedar menegaskan bahwa Pengkajian Ramadan tahun ini menjadi momentum penting untuk memperjelas fondasi ideologis Persyarikatan, khususnya terkait konsep tauhid murni yang menjadi ruh gerakan.
Ia menjelaskan, istilah tauhid murni dipilih dalam dokumen resmi Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Warga Muhammadiyah (MKCH) serta Kitabul Iman yang disusun oleh Majelis Tarjih dan Tajdid.
“Tapi penjelasannya sebatas itu bahwa akidah murni itu bersih dari takhayul, bid’ah, dan churafat yang di lingkungan Muhammadiyah dikenal dengan TBC,” kata Haedar.
Menurut dia, pada masa awal Muhammadiyah, jika merujuk pada tulisan-tulisan santri Ahmad Dahlan, istilah TBC belum dikenal secara terminologis. Meski demikian, Kiai Dahlan telah melakukan kritik terhadap praktik-praktik keagamaan yang dinilai menyimpang, termasuk tradisi meminta-minta kepada ahli kubur.
Pengkajian Ramadan ini, lanjut Haedar, menjadi upaya sistematis untuk merumuskan kembali pemahaman tauhid dalam kerangka pembaruan yang kontekstual dan berkemajuan. Ia menekankan bahwa tauhid tidak berhenti pada dimensi teologis, melainkan harus memiliki implikasi ideologis, filosofis, hingga praksis dalam kehidupan sosial dan kebangsaan.
Pengkajian Ramadan merupakan forum strategis tahunan Muhammadiyah yang menghadirkan pimpinan persyarikatan, akademisi, serta kader dari berbagai wilayah. Selama tiga hari pelaksanaan, sejumlah sesi diskusi, kajian panel sebagai bagian dari konsolidasi pemikiran gerakan.
Penunjukan UMT sebagai tuan rumah dinilai strategis, mengingat peran perguruan tinggi Muhammadiyah sebagai pusat pengembangan pemikiran dan gerakan. Momentum ini sekaligus mempertegas posisi kampus sebagai bagian integral dari gerakan intelektual dan dakwah Muhammadiyah di tingkat nasional. Tutupnya

