Workshop SIAOBE dan Rapat Dosen, Parinkraf UM Tangerang Perkuat Tata Kelola Akademik dan Kompetensi Dosen
TANGERANG – Fakultas Pariwisata dan Industri Kreatif Universitas Muhammadiyah Tangerang menggelar Workshop Penggunaan SIAOBE dan Rapat Dosen di Aula Lantai 15 UM Tangerang. Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat tata kelola akademik, meningkatkan pemanfaatan sistem digital, sekaligus mengevaluasi berbagai tantangan pengembangan fakultas.
Kegiatan dihadiri Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UM Tangerang Dr. KH. Saiman Shaleh, M.Pd., Kepala Badan Penjaminan Mutu Universitas (BPMU) Prof. Dr. H. Aris Gumilar, M.M., jajaran Dekanat Fakultas Parinkraf, serta para dosen.
Workshop SIAOBE diarahkan untuk memberikan pemahaman kepada dosen mengenai pemanfaatan platform digital dalam mendukung administrasi dan pelayanan akademik. Sementara rapat dosen menjadi forum koordinasi untuk membahas pembagian tugas mengajar, evaluasi akademik, serta berbagai agenda yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran.
Dekan Parinkraf UM Tangerang, Dr. Mikrad, M.M., mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses adaptasi dan evaluasi setelah dirinya menerima amanah sebagai dekan pada April 2026.
Menurutnya, masa awal kepemimpinan dimanfaatkan untuk memahami kondisi fakultas sekaligus memetakan sejumlah persoalan yang perlu ditindaklanjuti bersama.
“Ini merupakan masa adaptasi dan orientasi bagi saya untuk memahami kondisi Parinkraf secara lebih menyeluruh. Dari proses tersebut, saya mencoba menyimpulkan berbagai hal yang perlu kita benahi sekaligus menjadi bahan evaluasi dan laporan kepada Rektor UM Tangerang,” ujar Dr. Mikrad.
Salah satu perhatian utama yang disampaikan adalah penerimaan mahasiswa baru. Hingga saat ini, Parinkraf telah menerima 72 mahasiswa dan masih memiliki kesempatan untuk menambah jumlah mahasiswa hingga Oktober.
Untuk itu, promosi ke sekolah-sekolah dan pengenalan program studi kepada calon mahasiswa dinilai perlu terus ditingkatkan. Jumlah mahasiswa juga berkaitan langsung dengan pengelolaan proses pembelajaran dan kebutuhan jam mengajar dosen.
“Promosi harus terus kita lakukan, termasuk melalui kunjungan ke sekolah-sekolah. Kita masih memiliki kesempatan meningkatkan jumlah mahasiswa sampai Oktober karena hal tersebut juga akan berdampak pada proses pembelajaran dan jam mengajar,” jelasnya.
Tantangan berikutnya adalah peningkatan akreditasi. Dr. Mikrad menyebut masih terdapat sejumlah komponen yang perlu diperkuat, khususnya pada aspek akademik, penelitian, publikasi, dan pengabdian kepada masyarakat.
Ia mendorong dosen untuk tidak hanya menjalankan tugas pengajaran, tetapi juga aktif dalam penelitian, publikasi ilmiah, dan kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian dari penguatan mutu institusi.
Di tengah tantangan tersebut, Parinkraf memiliki capaian positif dengan enam dosen yang telah lulus Sertifikasi Dosen (Serdos). Capaian tersebut diharapkan dapat menjadi motivasi bagi dosen lain untuk meningkatkan kualifikasi dan kompetensi akademiknya.
“Alhamdulillah, enam dosen Parinkraf telah lulus sertifikasi dosen. Ini harus menjadi motivasi bagi dosen yang belum mendapatkannya untuk terus mempersiapkan diri. Serdos penting bukan hanya bagi dosen, tetapi juga memberikan dampak terhadap penguatan lembaga,” katanya.
Dr. Mikrad juga menyoroti perlunya penguatan budaya penelitian di lingkungan Parinkraf. Berdasarkan inventarisasi publikasi melalui basis data seperti SINTA dan Scopus, produktivitas penelitian dan publikasi dosen masih perlu ditingkatkan.
“Budaya akademik jangan hanya berorientasi pada pengajaran. Budaya penelitian juga harus kita bangun dan tingkatkan,” tegasnya.
Ia juga tengah mengkaji sejumlah konsep penguatan pembelajaran pada semester mendatang, termasuk optimalisasi pertemuan tatap muka. Kajian tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan keberlangsungan studi mahasiswa, termasuk upaya mencegah mahasiswa mengalami kendala akademik sejak semester pertama.
Selain akademik, pelayanan dan fasilitas juga menjadi perhatian. Dr. Mikrad menyebut beberapa program studi masih memiliki keterbatasan fasilitas laboratorium yang mendukung proses pembelajaran.
Menurutnya, peningkatan kualitas pelayanan juga harus berjalan beriringan dengan strategi promosi agar keberadaan Parinkraf semakin dikenal masyarakat.
Dalam konteks tersebut, pemanfaatan SIAOBE dinilai dapat menjadi salah satu instrumen untuk mendukung peningkatan mutu dan pelayanan.
“Kami berharap para dosen dapat mengikuti workshop SIAOBE dengan serius. Pemanfaatan sistem ini diharapkan dapat membantu meningkatkan mutu dan pelayanan di Parinkraf,” ujarnya.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Dr. Mikrad melihat Parinkraf memiliki peluang yang besar. Perkembangan sektor pariwisata, industri, dan ekonomi kreatif dinilai membuka ruang yang luas bagi mahasiswa dan lulusan untuk mengembangkan karier.
“Apapun kondisi Parinkraf saat ini, kita memiliki potensi dan peluang yang cerah untuk berkarier di bidang industri dan kreatif. Potensi ini yang harus kita kelola dan kembangkan bersama,” katanya.
Sementara itu, Ketua BPH UM Tangerang Dr. KH. Saiman Shaleh, M.Pd., mengingatkan pentingnya menjaga identitas Muhammadiyah dalam setiap proses akademik.
Ia menekankan agar pengembangan ilmu pengetahuan di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah tetap berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an dan ajaran Islam.
Menurut Saiman, visi pendidikan Muhammadiyah pada dasarnya diarahkan untuk membentuk manusia yang memiliki kemampuan intelektual sekaligus karakter yang benar.
“Visi misi Muhammadiyah itu hanya dua kata, agar pintar dan benar,” ungkapnya.
Ia juga menjelaskan bahwa Muhammadiyah memiliki identitas sebagai gerakan Islam, gerakan dakwah amar makruf nahi mungkar, gerakan tajdid atau pembaruan, serta gerakan purifikasi.
Karena itu, dosen diharapkan mampu mengembangkan keilmuan dan mengikuti perkembangan teori, namun tetap mengintegrasikannya dengan nilai-nilai Al-Qur’an.
“Dosen harus memahami teori-teori baru, tetapi teori tersebut tidak boleh terpisah dari nilai-nilai Al-Qur’an,” tegasnya.
Selanjutnya, Kepala BPMU UM Tangerang, Prof. Dr. H. Aris Gumilar, M.M., menyoroti pentingnya kesiapan dosen menghadapi perubahan dan disrupsi di dunia pendidikan tinggi.
Menurutnya, dosen perlu mampu mengidentifikasi kompetensi yang dibutuhkan pada masa kini, memahami perkembangan AI dan teknologi, serta menyusun strategi untuk menghadapi perubahan secara berkelanjutan.
“Kita harus mampu mengidentifikasi kompetensi yang dibutuhkan saat ini, memahami AI dan teknologi dalam dunia akademik maupun profesional, kemudian menyusun strategi untuk menjawab tantangan dan keberlanjutan,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan dosen untuk mengikuti perkembangan regulasi pendidikan tinggi yang berlaku serta menyesuaikan diri dengan perubahan tata kelola yang semakin mengarah pada digitalisasi.
Dalam konteks tersebut, SIAOBE dinilai dapat membantu perguruan tinggi meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus mendukung profesionalisme dosen dalam menjalankan tugas akademik.
“SIAOBE merupakan salah satu platform yang dapat membantu menghadirkan pelayanan prima sekaligus menjawab tantangan di masa depan. Pemanfaatannya juga dapat mendukung peningkatan profesionalisme dan kompetensi pedagogik dosen,” katanya.
Prof. Aris juga menekankan pentingnya dosen memiliki kompetensi profesional dan sosial. Dosen dituntut untuk terus memperbarui pengetahuan, mengembangkan keilmuan, serta mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di dunia akademik maupun profesional.
Selain itu, hubungan sosial di lingkungan kampus perlu dijaga. Dosen diharapkan membangun komunikasi yang baik dengan sesama dosen, mahasiswa, orang tua mahasiswa, maupun masyarakat.
“Kita harus memiliki kompetensi sosial, mampu membangun hubungan yang baik dengan sesama dosen, mahasiswa, orang tua mahasiswa, maupun lingkungan di luar universitas. Jangan sampai terjadi perpecahan. Kita harus tetap solid,” ujarnya.
Menurutnya, pengembangan kompetensi dosen juga perlu dibarengi dengan peningkatan jenjang akademik dan sertifikasi. Proses tersebut membutuhkan kesiapan, konsistensi, dan pengembangan diri secara berkelanjutan.
“Kompetensi profesional berarti kita harus terus update, mengembangkan keilmuan, dan mau mengembangkan diri. Kita harus siap menghadapi berbagai perubahan situasi dan kondisi,” pungkasnya.
Melalui Workshop Penggunaan SIAOBE dan Rapat Dosen, Parinkraf UM Tangerang tidak hanya melakukan penguatan teknis dalam pengelolaan sistem akademik dan pembagian tugas mengajar, tetapi juga membuka ruang evaluasi terhadap berbagai aspek pengembangan fakultas.
Mulai dari penerimaan mahasiswa baru, akreditasi, penelitian dan publikasi, sertifikasi dosen, fasilitas, pelayanan, digitalisasi hingga penguatan kompetensi dan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan menjadi bagian dari agenda yang perlu dikembangkan secara bersama.
Kegiatan tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat tata kelola Parinkraf UM Tangerang sekaligus mempersiapkan sivitas akademika menghadapi dinamika pendidikan tinggi dan perkembangan industri pariwisata serta ekonomi kreatif.
Dokumentasi Kegiatan



