0 %

Benchmarking DKV UMT ke ITB, Kolaborasi Akademik Industri Kreatif

Bandung, 14 Agustus 2026 — Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV), Fakultas Pariwisata dan Industri Kreatif (Parinkraf), Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT), melaksanakan kunjungan benchmarking ke Program Studi Desain Komunikasi Visual Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Jumat, 14 Agustus 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya strategis Program Studi DKV UMT dalam memperluas wawasan akademik, melakukan refleksi terhadap tata kelola pendidikan, sekaligus memperoleh inspirasi dari praktik-praktik baik yang telah dikembangkan oleh institusi lain dalam penyelenggaraan pendidikan Desain Komunikasi Visual.

Kegiatan benchmarking tersebut menjadi ruang pertemuan akademik yang mempertemukan pengalaman, gagasan, dan perspektif dari dua institusi dengan karakter serta lingkungan akademik yang berbeda. Melalui dialog dan pertukaran pengalaman, Program Studi DKV UMT berkesempatan memperoleh berbagai masukan yang relevan untuk mendukung pengembangan program studi agar semakin adaptif terhadap perubahan keilmuan, perkembangan teknologi, kebutuhan industri kreatif, serta dinamika dunia pendidikan tinggi.

Bagi Program Studi DKV UMT, kegiatan benchmarking bukan sekadar kunjungan institusional untuk melihat bagaimana perguruan tinggi lain menjalankan program pendidikannya. Lebih jauh, kegiatan ini diposisikan sebagai proses pembelajaran, evaluasi, dan refleksi untuk mengidentifikasi berbagai praktik baik yang dapat menjadi referensi dalam pengembangan program studi sesuai dengan visi, karakteristik, kapasitas, dan kebutuhan UMT.

Memperluas Perspektif Pengembangan Pendidikan DKV

Pertemuan antara Program Studi DKV UMT dan DKV ITB berlangsung dalam suasana hangat, terbuka, dan produktif. Diskusi berkembang pada berbagai isu strategis yang berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan Desain Komunikasi Visual serta bagaimana program studi dapat terus merespons perubahan yang terjadi di lingkungan akademik maupun industri kreatif.

Salah satu pembahasan utama adalah mengenai pengembangan kurikulum agar tetap relevan dengan perkembangan keilmuan dan kebutuhan dunia kerja. Dalam bidang DKV yang berkembang sangat dinamis, kurikulum dituntut tidak hanya memberikan landasan teoritis dan keterampilan teknis, tetapi juga mampu membangun kemampuan berpikir kreatif, kritis, adaptif, kolaboratif, serta kemampuan mahasiswa dalam merespons persoalan nyata di masyarakat dan industri.

Diskusi juga menyoroti pentingnya proses pembelajaran yang mampu mengintegrasikan teori, praktik, eksplorasi, dan penciptaan karya. Lingkungan pembelajaran DKV perlu memberikan ruang yang cukup bagi mahasiswa untuk bereksperimen, mengembangkan gagasan, melakukan proses kreatif, menerima umpan balik, serta menghasilkan karya yang dapat menjadi representasi kompetensi mereka.

Aspek lain yang menjadi perhatian adalah pengelolaan karya dan portofolio mahasiswa. Dalam pendidikan DKV, karya bukan hanya menjadi output pembelajaran, tetapi juga merupakan bagian penting dari rekam jejak kompetensi mahasiswa. Portofolio yang dikelola secara baik dapat menjadi media untuk menunjukkan kemampuan, proses kreatif, karakter desain, serta kesiapan mahasiswa dalam memasuki dunia profesional.

Pembahasan kemudian berkembang pada penguatan sumber daya dosen. Perkembangan teknologi dan industri kreatif yang sangat cepat menuntut dosen untuk terus memperbarui kompetensi, memperluas jejaring profesional, serta mengikuti perkembangan praktik dan wacana terbaru dalam bidang desain. Penguatan kapasitas dosen menjadi salah satu fondasi penting dalam memastikan kualitas proses pembelajaran dan relevansi pendidikan yang diberikan kepada mahasiswa.

Selain aspek kurikulum dan sumber daya manusia, diskusi turut menyoroti pentingnya membangun ekosistem akademik yang mendukung kreativitas dan inovasi. Pendidikan DKV tidak dapat berkembang hanya melalui kegiatan pembelajaran di dalam kelas, tetapi membutuhkan lingkungan yang mendorong mahasiswa untuk aktif berkarya, berdiskusi, berkolaborasi, mengikuti perkembangan industri, serta berinteraksi dengan berbagai pihak di luar kampus.

Dihadiri Pimpinan dan Pengelola Program Studi DKV ITB

Dari pihak Institut Teknologi Bandung, kegiatan benchmarking dihadiri oleh Wakil Dekan I, Banung Grahita, S.Ds., M.Ds., Ph.D., serta Ketua Program Studi Desain Komunikasi Visual, Hafiz Aziz Ahmad, S.Sn., M.Des., Ph.D.

Kehadiran pimpinan fakultas dan program studi DKV ITB memberikan kesempatan bagi peserta benchmarking dari UMT untuk berdialog secara langsung mengenai berbagai pengalaman dalam mengelola pendidikan DKV. Pertukaran perspektif tersebut menjadi bagian penting dalam memahami bagaimana institusi pendidikan dapat merancang strategi pengembangan program studi secara berkelanjutan di tengah perubahan kebutuhan masyarakat dan industri.

Sementara itu, dari Fakultas Pariwisata dan Industri Kreatif Universitas Muhammadiyah Tangerang hadir Wakil Dekan I, Rella Dwi Respati, S.ST., M.M.; Ketua Program Studi DKV, Aliyah, S.I.Kom., M.I.Kom.; Sekretaris Program Studi DKV, Widya Oktary Setiawardhani, S.T., M.Ds.; serta Dosen Tetap DKV UMT, Zulfah Hasanah, S.Sn., M.Ds.

Kehadiran unsur pimpinan fakultas, pengelola program studi, dan dosen tersebut menunjukkan komitmen bersama untuk terus mendorong peningkatan kualitas penyelenggaraan pendidikan DKV di lingkungan Universitas Muhammadiyah Tangerang.

Kehadiran ASPRODI DKV Indonesia Perkaya Perspektif Diskusi

Kegiatan benchmarking ini juga semakin bermakna dengan turut hadirnya Ketua Umum ASPRODI DKV Indonesia, Dr. Intan Rizky Mutiaz, M.Ds.

Kehadiran ASPRODI DKV Indonesia memberikan perspektif yang lebih luas dalam melihat perkembangan pendidikan Desain Komunikasi Visual di tingkat nasional. Diskusi tidak hanya melihat pengelolaan program studi dari perspektif internal perguruan tinggi, tetapi juga membuka ruang pembahasan mengenai tantangan dan arah pengembangan pendidikan DKV secara lebih luas.

Dalam konteks perkembangan industri kreatif yang semakin kompleks, pendidikan DKV dituntut untuk mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi relevan sekaligus memiliki kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan. Perkembangan teknologi digital, kecerdasan artifisial, perubahan pola konsumsi media, perkembangan industri kreatif, serta munculnya berbagai bidang profesi baru menjadi bagian dari dinamika yang perlu mendapatkan perhatian dalam pengembangan pendidikan DKV.

Karena itu, penguatan jejaring antarprogram studi dan antarperguruan tinggi menjadi penting. Forum seperti benchmarking dapat menjadi salah satu sarana untuk mempertemukan pengalaman, membangun komunikasi akademik, dan membuka peluang kolaborasi yang dapat memberikan manfaat lebih luas bagi dosen maupun mahasiswa.

Benchmarking Bukan Sekadar Membandingkan

Setiap perguruan tinggi memiliki karakteristik, visi, sumber daya, budaya akademik, dan lingkungan yang berbeda. Karena itu, hasil benchmarking perlu diterjemahkan melalui proses refleksi dan adaptasi agar dapat memberikan manfaat yang sesuai dengan kebutuhan program studi.

Pendekatan tersebut menjadi penting agar benchmarking tidak berhenti pada kegiatan kunjungan dan dokumentasi, tetapi dapat menghasilkan tindak lanjut yang nyata dalam pengembangan program studi.

Dengan demikian, pengalaman yang diperoleh dari ITB diharapkan dapat menjadi salah satu referensi bagi DKV UMT dalam melakukan evaluasi dan pengembangan berbagai aspek akademik, mulai dari kurikulum, pembelajaran, pengelolaan karya mahasiswa, pengembangan kapasitas dosen, hingga penguatan jejaring dengan dunia profesional dan industri kreatif.

Mendorong DKV yang Adaptif terhadap Perubahan

Perkembangan DKV saat ini tidak dapat dilepaskan dari perubahan teknologi dan transformasi industri kreatif. Desainer tidak lagi hanya dituntut menghasilkan visual yang menarik, tetapi juga dituntut mampu memahami konteks, menyelesaikan persoalan melalui pendekatan desain, berkolaborasi lintas disiplin, memahami perkembangan teknologi, serta menciptakan karya yang memiliki nilai dan dampak.

Kondisi tersebut menempatkan perguruan tinggi pada posisi penting untuk memastikan bahwa proses pendidikan mampu mempersiapkan mahasiswa menghadapi perubahan tersebut.

Karena itu, pendidikan DKV perlu terus bergerak dari sekadar penguasaan keterampilan teknis menuju pengembangan kompetensi yang lebih komprehensif. Kreativitas perlu berjalan bersama kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, pemecahan masalah, literasi teknologi, serta pemahaman terhadap kebutuhan masyarakat dan industri.

Benchmarking DKV UMT ke ITB menjadi salah satu langkah untuk memperluas perspektif mengenai bagaimana tantangan tersebut dapat direspons melalui pengembangan pendidikan yang relevan dan berkelanjutan.

Membuka Ruang Kolaborasi Akademik

Selain memperoleh wawasan dan pengalaman, kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi pintu masuk bagi terbentuknya hubungan yang lebih erat antara Program Studi DKV UMT dengan Program Studi DKV ITB serta berbagai jejaring pendidikan DKV di Indonesia.

Kolaborasi akademik ke depan dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk sesuai dengan kebutuhan dan peluang yang tersedia. Mulai dari pertukaran pengetahuan, diskusi akademik, seminar dan kuliah tamu, pengembangan kapasitas dosen, kegiatan mahasiswa, kolaborasi karya, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga bentuk kerja sama lainnya.

Jejaring semacam ini menjadi semakin penting dalam menghadapi tantangan pendidikan tinggi yang terus berkembang. Kolaborasi memungkinkan perguruan tinggi untuk saling belajar, mengoptimalkan sumber daya, memperluas akses terhadap pengetahuan, dan menciptakan berbagai inovasi yang tidak selalu dapat dibangun secara sendiri-sendiri.

Menjadikan Benchmarking sebagai Awal Perubahan

Kunjungan benchmarking Program Studi DKV UMT ke Institut Teknologi Bandung diharapkan tidak berhenti sebagai agenda institusional satu hari. Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi bagian dari proses berkelanjutan untuk memperkuat kualitas akademik dan tata kelola Program Studi DKV UMT.

Berbagai wawasan yang diperoleh selama kegiatan akan menjadi bahan refleksi untuk melihat kembali apa yang telah dilakukan, apa yang masih perlu diperkuat, serta inovasi apa yang dapat dikembangkan ke depan.

Semangat tersebut sejalan dengan kebutuhan perguruan tinggi untuk terus melakukan perbaikan secara berkelanjutan. Pendidikan yang unggul tidak dibangun dalam satu waktu, tetapi melalui proses belajar, evaluasi, kolaborasi, dan keberanian untuk terus melakukan pembaruan.

Atas terselenggaranya kegiatan tersebut, Fakultas Pariwisata dan Industri Kreatif Universitas Muhammadiyah Tangerang menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Program Studi Desain Komunikasi Visual Institut Teknologi Bandung atas sambutan yang hangat, keterbukaan dalam berbagi pengalaman, serta berbagai pengetahuan dan perspektif yang telah diberikan.

Apresiasi juga disampaikan kepada ASPRODI DKV Indonesia yang turut memperkaya ruang diskusi dan memperluas perspektif mengenai pengembangan pendidikan DKV di Indonesia.

Melalui kegiatan ini, Program Studi DKV UMT diharapkan semakin memiliki perspektif yang luas dalam membaca perkembangan pendidikan dan industri kreatif, sekaligus semakin siap membangun ekosistem akademik yang mendorong kreativitas, inovasi, kolaborasi, dan daya saing lulusan.

Belajar dari praktik baik, bertumbuh melalui kolaborasi, dan bergerak bersama menghadirkan pendidikan yang unggul dan berdampak.

Fakultas Pariwisata dan Industri Kreatif (Parinkraf) terus mendorong dan mendukung Mahasiswa, Dosen serta seluruh tim untuk terus berkegiatan dan berinovasi guna terus memajukan Fakultas Pariwisata dan Industri Kreatif (Parinkraf) dan UMT baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Untuk Info Pendaftaran Mahasiswa & lainnya silahkan hubungi (021) 59583364 atau datang langsung ke Fakultas Pariwisata dan Industri Kreatif (Parinkraf) UMT Lantai 4.

Semoga Program/kegiatan ini dapat berjalan dengan baik dan lancar serta memberikan kebermanfaatan bagi semua pihak.

Salam Parinkrafers,

umt.ac.id/parinkraf